Peristiwa

11 Fenomena Astronomi Sepanjang Oktober 2021: Ada Empat Kali Hujan Meteor

CIANJURTODAY.COM – Sepanjang Oktober 2021, akan ada 11 fenomena Astronomi menarik yang akan menghiasi langit Indonesia, baik di siang maupun malam hari. Bahkan, ada empat puncak hujan meteor yang terjadi.

Berikut 11 fenomena astronomi sepanjang Oktober 2021:

  1. Aphelion Venus : 3 Oktober 2021

Aphelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut.

Peneliti di Pusat Sains Antariksa Lapan BRIN, Andi Pangerang mengatakan, aphelion Venus terjadi setiap rata-rata 225 hari sekali atau dalam lima tahun terjadi delapan kali.

Aphelion Venus kali ini terjadi pada 3 Oktober 2021 pukul 11.07 Wib, 12.07 Wita, 13.07 Wit dengan jarak 108.942.000 km dari Matahari.

Aphelion Venus sebelumnya sudah terjadi pada 20 Februari 2021 dan akan terjadi kembali pada 15 Mei dan 26 Desember 2022.

  1. Konjungsi Solar Mars: 8 Oktober 2021

Fenomena langit kedua yakni konjungsi Solar Mars merupakan konfigurasi ketika Mars, Matahari dan Bumi berada pada satu garis lurus dan Mars terletak sejajar dengan Matahari.

Puncak konjungsi solar Mars terjadi pada 8 Oktober pukul 11.29 Wib, 12.29 Wita, 13.29 Wit. Mars berjarak 243.738.000 km dari Matahari dengan magnitudo +1,65.

Sayangnya, kata Andi, fenomena yang satu ini tidak bisa dilihat bahkan dengan bantuan alat optik apapun. Sebab, terjadi tepat di siang hari di saat pencahayaan dari Matahari sangat menganggu penglihatan ke arah langit.

3. Puncak Hujan Meteor Draconid: 8 Oktober 2021

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo menambahkan, ada fenomena menarik lainnya yang bisa disaksikan oleh masyarakat Indonesia di bulan Oktober ini. Fenomena tersebut adalah puncak hujan meteor Draconid.

Hujan meteor Draconid adalah hujan meteor yang terkenal dengan variasi intensitasnya dan di masa silam pernah memproduksi beberapa badai meteor (mendekati 1.000 meteor per jam).

Puncak dari fenomena hujan meteor Draconoid ini bisa disaksikan sepanjang malam sejak pukul 20.00 hingga terbitnya fajar, pada 8 Oktober 2021.

4. Konjungsi Bulan – Venus: 9 Oktober 2021

Konjungsi Bulan dan Venus adalah peristiwa seakan berkumpulnya Bulan dan planet Venus dalam satu lokasi yang sama jika dilihat dari Bumi. Keduanya akan nampak dalam satu garis lurus.

Fenomena langit Oktober ini bisa diabadikan dengan kamera, lebih baik bila dikombinasikan dengan teknik astrofotografi. Konjungsi terjadi di kala senja setelah terbenamnya Matahari, pada 9 Oktober 2021.

  1. Konjungsi Inferior Merkurius: 9-10 Oktober 2021

Konjungsi Inferior adalah konfigurasi ketika Bumi, Merkurius dan Matahari berada pada satu garis lurus.

Konjungsi inferior sama seperti fase Bulan baru pada Bulan, sehingga Merkurius tidak tampak baik ketika senja maupun fajar. Konjungsi inferior Merkurius menandai pergantian ketampakan Merkurius dari senja ke fajar.

Konjungsi inferior kali ini terjadi pada tanggal 9 Oktober 2021 pukul 23.11 Wib atau  10 Oktober 2021 pukul 00.11 Wita, 01.11 Wit dengan sudut pisah 1,9 derajat.

  1. Merkurius Ketika Fajar: 17 Oktober 2021

Setelah Merkurius mengalami ketampakan terakhir ketika senja dan konjungsi inferior, Merkurius teramati kembali ketika fajar sejak 17 Oktober.

Merkurius dapat disaksikan saat awal fajar bahari dari arah timur selama 20 menit dan terletak dekat konstelasi Virgo.

Magnitudo Merkurius sebesar +1,16 dan Merkurius berjarak 46.460.000 km dari Matahari.

  1. Puncak Hujan Meteor Epsilon Geminid: 18-19 Oktober 2021

Epsilon Geminid adalah hujan meteor yang titik radian (asal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Gemini dekat bintang Epsilon Geminorium.

Fenomena hujan meteor ini aktif sejak 14 hingga 27 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 19 Oktober 2021 pukul 05.00 Wib, 06.00 Wita, 07.00 Wit.

  1. Puncak Hujan Meteor Orionid: 20 Oktober 2021

Fenomena puncak hujan meteor lainnya yang bisa Anda saksikan bulan ini adalah hujan meteor Orionid.

Hujan meteor Orionid adalah hujan meteor yang terkenal karena meteor-meteornya bersumber dari remah-remahan komet Halley yang legendaris.

Meteor-meteor Orionid memasuki atmosfer Bumi pada kecepatan 67 km/detik. Hujan meteor ini hanya bisa disaksikan sejak tengah malam hingga terbitnya fajar.

9. Perihelion Merkurius: 20 Oktober 2021

Perihelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terdekat dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut.

Andi menjelaskan, Perihelion Merkurius terjadi setiap rata-rata 88 hari sekali atau dalam setahun terjadi empat kali.

Perihelion Merkurius kali ini terjadi pada 20 Oktober 2021 pukul 06.51 Wib, 07.51 Wita, 08.51 Wit dengan jarak 46 juta kilometer dari Matahari.

Perihelion Merkurius sebelumnya sudah terjadi pada 29 Januari, 27 April dan 24 Juli 2021. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 16 Januari, 14 April, 11 Juli, dan 7 Oktober 2021.

  1. Puncak hujan meteor Leonis: 25 Oktober 2021

Leonis Minorid adalah hujan meteor yang titik radian (asal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Leo Minor, dekat konstelasi Leo.

Hujan meteor ini aktif sejak 19 hingga 27 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 25 Oktober 2021 pukul 09.00 Wib, 10.00 Wita, 11.00 Wit.

Sehingga, hujan meteor ini dapat disaksikan dari arah Timur Laut sejak pukul 03.00 waktu setempat hingga 20 menit sebelum terbit Matahari. Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 3 meteor per jam.

  1. Konjungsi Bulan – Pollux: 28 Oktober 2021

Pollux merupakan bintang utama di konstelasi Gemini. Bintang ini berkonjungsi dengan Bulan, puncaknya terjadi pada pukul 03.40 Wib, 04.40 Wita, 05.40 Wit dengan sudut pisah 2,1°.

Akan tetapi, fenomena ini sudah dapat disaksikan dari arah timur laut hingga utara sejak tengah malam hingga 20 menit sebelum terbit Matahari dengan sudut pisah 2,1°-2,5°.

Bulan berfase sabit akhir dengan iluminasi 60,2 persen -59,4 persen sedangkan Pollux bermagnitudo +1,15.(sis)

Sumber: Kompas.com

Berita terkait

Berikan Komentar Kalian

Back to top button

Harap Ijinkan Iklan di Situs Kami

Sepertinya Anda menggunakan pemblokiran iklan. Kami mengandalkan iklan untuk membantu mendanai situs kami