PENDIDIKAN

Pembelajaran Matematika Sekolah di Masa Depan

No ratings yet.

SELAMA saya mengajar sebagai guru matematika, kurang lebih hampir tiga tahun hingga sekarang. Memang bukan waktu yang cukup lama, namun sepanjang tiga tahun itu, banyak hal yang menarik perhatian saya pada saat mengajarkan pelajaran matematika pada siswa-siswa saya di kelas. Satu hal yang sering saya alami setiap mengajarkan matematika di sekolah adalah mendapatkan pertanyaan yang mungkin juga sering didapatkan oleh guru-guru matematika di sekolah lainnya, yaitu pertanyaan

“Untuk apa kita belajar matematika yang diajarkan di sekolah?” dan “Apa manfaatnya (untuk mereka) setelah bekerja?”. Saya menyimpulkan pertanyaan tersebut menjadi sebuah pertanyaan yang umum, yaitu “Kenapa kita harus mempelajari matematika di sekolah?”.

Hal tersebut memang telah jadi perhatian, tidak hanya di sekolah tempat saya mengajar namun juga di sekolah-sekolah yang ada di negara lain, seperti halnya yang dikatakan oleh Conrad Wolfram, direktur utama “Wolfram Research”, mengatakan bahwa kita sedang menghadapi masalah nyata dengan pendidikan matematika sekarang, tidak ada pihak yang senang, orang yang mempelajari matematika berfikir matematika itu tidak saling terkait, tidak menarik dan sulit, kemudian orang yang menerapkannya berfikir pengetahuan mereka kurang untuk mengajarkan matematika lebih baik. Setiap pemerintah percaya bahwa matematika menjadi solusi untuk kemajuan ekonomi negara mereka, tapi tidak tahu cara memperbaikinya, guru-guru matematikan pun frustasi.

Ironisnya sekarang ini kita dihadapkan pada dunia yang lebih matematis dari sebelumnya, sebuah jaman yang syarat perhitungan. Namun pada saat yang bersamaan pendidikan matematika di sekolah kita mengalami kebingungan, sehingga inilah yang membuat adanya jurang pemisah antara pembelajaran matematika di sekolah dengan penerapan matematika itu sendiri di dunia luar setelah para siswa lulus dari sekolahnya. Sehingga pertanyaannya, bagaimana cara untuk menutup jurang tersebut?.

Menurut Jeremy Kilpatrick, dkk. dalam bukunya Adding It Up: Helping Children Learn Mathematics, mengatakan bahwa setidaknya terdapat lima hal yang perlu diperhatikan oleh guru terhadap siswanya dalam hal mengajarkan matematika, agar matematika tesebut dapat benar-benar bermanfaat. Lima hal tersebut adalah: (1). Pemahaman Konsep, yaitu tentang konsep dalam matematika, operasi dan relasi; (2). Kelancaran Prosedural, yaitu keterampilan dalam melaksanakan prosedur secara fleksibel, akurat, efisien dan tepat; (3). Kompetensi Strategi, kemampuan untuk memformulakan, dan memecahkan masalah matematik; (4). Kemampuan Adaptasi, yaitu kapasitas berfikir logis, dapat mereflekiskan dan menjelaskan kembali; (5). Produktif Disposisi, yaitu kebiasaan dalam melihat bahwa matematika itu sebagi sesuatu yang berguna, bermanfaat dan dapat digunakan dalam kehidupan. Kelima aspek ini tidak bisa dipisahkan satu dan yang lainnya, karena saling berkaitan. Nah, yang menarik dari kelima aspek tersebut adalah yang terakhir, yaitu Produktif Disposisi, bagaimana kita melihat matematika sebagai ilmu yang berguna. Tentu saja untuk dapat mencapai kemampuan teresebut harus dibekali juga dengan kemapuan empat aspek yang lainnya.

Secara garis besar semua aspek tersebut dapat dilakukan di kelas secara sederhana, saya ambil dari pernyataan Conrad Wolfram, dia mengatakan bahwa setidaknya ada empat aspek yang sebaiknya dilakukan guru dalam mengajarkan matematika di sekolah yaitu: (1). Mengidentifikasi masalah yang akan dicari solusinya (dibuat dalam suatu pertanyaan yang benar); (2). Memformulakan pertanyaan tersebut dalam formula matematika; (3). Mengkomputasi formula tesebut; (4). Hasil komputasi tersebut di interpretasikan menjadi solusi dari pertanyaan pada tahap pertama tadi. Keempat tahap yang dikemukakan Conrad Wolfram memang terlihat tidak familiar pada pembelajaran matematika umumnya, karena biasanya dalam belajar matematika di kelas kebanyakan guru hanya melakukan tahap yang ke-tiga, yaitu mengkomputasi. Tidak buruk memang untuk mengjarkan siswa-siswa kita keterampilan menghitung di matematika, namun jika hanya itu yang dilakukan, dan terus berulang di semua jenjang, pada akhirnya hanya akan membuang-buang waktu siswa-siswa kita saja, karena siswa-siswa kita tidak pernah tahu untuk apa mereka menghitung soal tesebut, akibatnya pertanyaan pada awal paragraf ini akan terulang kembali.

Solusinya, di kelas sebaiknya siswa lebih ditekankan pada tahap ke-1, 2, dan 4, karena hal tesebut yang akan menentukan matematika itu bermanfaat bagi kehidupan diluar sekolah, namun tentu saja tanpa kemampuan komputasi yang baik tahap ketiga tesebut juga akan percuma. Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa perhitungan pada masalah yang sebenarnya tidak semudah menghitung soal-soal yang sering siswa temui di Lembar Kerja Siswa (LKS), akan lebih rumit dan lebih tidak mudah untuk dihitung manual, sehingga Conrad Wolfram menyarankan agar menggunakan komputer untuk melakukan perhitungan pada tahap ke-3. Sekarang ini memang komputer atau kalkulator masih dianggap sesuatu yang tabu dalam matematika, mereka menganggap komputer hanya membuat matematika jadi sangat mudah dan tidak intelek sperti halnya menggunakan tangan. Kesalahan pendapat tersebut sesunggunya terletak karena persoalan yang mereka hitung tesebut, kebanyakan soal yang diberikan guru di kelas memang soal-soal yang mudah sehingga akan terlihat lebih mudah jika menggunakan kompute. Namun jika dihadapkan pada masalah nyata tentu saja penyelesaiannya tidak akan mudah dikerjakan dengan tangan, mau tidak mau harus menggunakan komputer.

Masalah-masalah yang dihadapkan pada siswa yanga akan dicari solusinya dengan matematika pada akhrinya dapat ditemukan banyak di pelajaran lain, seperti mencari solusi untuk berinvestasi dengan aman dan menguntungkan, menentukan jam kerja karyawan yang efektif agar pengeluaran perusahaan dapat efisien, atau masalah-masalah lain yang berkaitan dengan mesin, geologi, kimia, arsitektur, dan sebagainya. Karena pada kenyataannya matematika adalah ilmu yang sangat populer di bidang-bidang lain, namun sayangnya matematika sendiri tidak disukai di sekolah dan dirasa tidak bermanfaat.

Saya bisa bayangkan jika matematika diajarkan seperti halnya lima aspek yang ditekankan oleh Kilpatrick, dkk kemudian empat tahapan yang diberikan oleh Conrad Wolfram, maka matematika di sekolah akan benar-benar terasa manfaatnya diluar sekolah, sehingga semakin tidak ada jurang pemisah anatara matematika sekolah dengan dunia diluar sekolah. Seperti apa yang dikatakan oleh Conrad Wolfram, “Entah akan tetap disebut pelajaran matematika atau tidak di masa depan, namun negara yang pertama menerapkan konsep pembelajaran dengan menggunakan empat tahap tadi dan memanfaatkan komputer dengan baik, mempunyai peluang yang sangat besar untuk memajukan ekonomi negara mereka dengan pesat,” (*) 

Profil Penulis:
Nama : Sugama Maskar
Pekerjaan : Mahaiswa Pascasarjana Jurusan Pengajaran Mateamtika ITB, Guru Matematika di SMKN 1 Pacet, Pengajar Matematika di Ganesha Operation Cabang Cianjur.

Nilai Kualitas Konten

Baca Selengkapnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: