Trending

Ashraf Ghani Menyerah, Pasukan Taliban Kuasai Istana Kepresidenan Afghanistan

CIANJURTODAY.COM, Afghanistan – Pasukan Taliban kini telah memasuki dan menguasai istana kepresidenan Afghanistan dan wilayah Ibu Kota Kabul.

Sejumlah video pasukan Taliban di Istana Presiden beredar luas di mesia sosial. Bahkan, video masyarakat berlarian untuk berusaha melarikan diri pun membuat getir suasana Afghanistan saat ini.

Tak ketinggalan, bandara Kabul sebagai pintu keluar dan masuk negara Afghanistan pun turut dipenuhi penumpang dan situasi tampak kacau tak terkendali.

Kronologis Pasukan Taliban menguasai Afghanistan

Mengutip dari CNN, Senin (16/8/2021), kurang dari sebulan setelah teroris yang terkait dengan Al-Qaeda melakukan serangan pada (9/11/2001) silam, pasukan Amerika Serikat dan sekutu memulai invasi ke Afghanistan yang disebut sebagai Operation Enduring Freedom.

Hal tersebut merupakan upaya menghentikan Pasukan Taliban menyediakan tempat yang aman bagi Al-Qaeda dan untuk menghentikan serangan.

Pada 7 Desember 2001, Pasukan Taliban kehilangan benteng besar terakhirnya saat Kota Kandahar jatuh.

Sejak itu, kelompok tersebut telah berusaha untuk mendapatkan wilayah di Afghanistan selama pasukan AS berada di sana dan melalui berbagai pemerintahan.

Kemudian pada Januari 2017, Taliban mengirim surat terbuka kepada Donald Trump yang pada saat itu baru terpilih menjadi presiden AS, memintanya untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan.

Antara 2017 hingga 2019, sempat ada upaya pembicaraan damai antara AS dan Taliban yang tidak pernah berujung menjadi kesepakatan.

Selama perjalanannya ke Afghanistan pada November 2019 – untuk kunjungan dalam rangka sambutan Thanksgiving dengan pasukan AS, Trump mengumumkan bahwa pembicaraan damai dengan Taliban dimulai kembali.

Pembicaraan damai pun dilanjutkan di Doha, Qatar, pada Desember tahun itu.

AS dan Taliban menandatangani perjanjian bersejarah pada Februari 2020 dan menggerakkan potensi penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan.

“Perjanjian untuk Membawa Perdamaian ke Afghanistan” menguraikan serangkaian komitmen dari AS dan Taliban terkait dengan tingkat pasukan, kontra terorisme, dan dialog intra-Afghanistan yang bertujuan untuk mewujudkan “gencatan senjata secara permanen dan komprehensif.”

Beberapa bulan setelah penandatanganan kesepakatan damai pemerintahan Trump dengan Taliban, kelompok militan itu meningkatkan serangannya terhadap sekutu Afghanistan dan AS ke tingkat yang lebih tinggi dari biasanya.

Menurut data yang diberikan kepada Pentagon’s Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction.

Pada Agustus 2020, majelis besar tetua Afghanistan, konsultatif Loya Jirga, mengeluarkan resolusi yang menyerukan pembebasan sekitar 5.000 tahanan Taliban.

Termasuk membuka jalan bagi pembicaraan damai langsung dengan kelompok itu untuk mengakhiri perang yang terjadi hampir dua dekade lamanya. 

Pembebasan 400 tahanan adalah bagian dari perjanjian yang ditandatangani oleh AS dan Taliban pada Februari 2021.

Pada Maret 2021, Presiden Ashraf Ghani dan pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengusulkan kepada pemerintah Afghanistan, agar mereka menandatangani perjanjian pembagian kekuasaan sementara dengan Taliban.

Pada April 2021, Presiden Biden mengumumkan bahwa AS akan menarik pasukan dari Afghanistan pada September 2021.

Kemudian pada Agustus 2021, hanya beberapa bulan setelah AS mulai menarik pasukan, pemerintahan Biden mengirim 5.000 tentara ke Afghanistan setelah Taliban mulai menguasai negara itu.

Pada 15 Agustus 2021, setelah Taliban menguasai setiap kota besar di Afghanistan, selain Kabul, hanya dalam dua pekan saja, mereka terlibat dalam pembicaraan dengan pemerintah di ibu kota mengenai pihak mana yang akan memerintah negara itu.

Taliban sekarang semakin dekat untuk mengambil kendali penuh atas Afghanistan dan telah merebut istana kepresidenan di Kabul setelah Presiden Ashraf Ghani meninggalkan negara itu.

Pembicaraan sebelumnya untuk membentuk pemerintahan transisi, tampaknya telah digagalkan oleh kepergian Ghani.

Presiden Ghani Tinggalkan Afghanistan

Presiden Ashraf Ghani mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan di Facebook bahwa ia telah meninggalkan Afghanistan.

Mengutip dari AFP, Senin (16/8/2021) Presiden Ghani mengatakan bahwa dia telah meninggalkan negara itu pada Minggu (15/8/2021) untuk mencegah pertumpahan darah, ketika Taliban memasuki wilayah Ibu Kota Kabul.

Dalam pernyataannya, Ghani mengatakan bahwa dirinya percaya patriot yang tak terhitung jumlahnya akan menjadi martir dan kota Kabul akan hancur, jika dia tetap berada di sana.

“Taliban telah menang dengan penghakiman pedang dan senjata mereka, dan sekarang bertanggung jawab atas kehormatan, properti, dan pertahanan diri warga negara mereka,” kata Ghani.

“Mereka sekarang menghadapi ujian sejarah baru. Entah mereka akan mempertahankan nama dan kehormatan Afghanistan atau mereka akan memprioritaskan tempat dan jaringan lain,” tambahnya.

Ghani tidak mengungkap lokasi keberadaannya saat ini, tetapi sebuah media terkemuka Afghanistan, Tolo News, menyebut dia pergi ke Tajikistan.(sis)

Sumber: Liputan6.com

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button