Nasional

Awas! Ada Hoaks Soal BBM Naik

CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Beredar di media sosial Twitter dan WhatsApp mengenai kabar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik tersebar. Dalam informasi tersebut, tertulis bahwa kenaikan BBM akan berlaku sejak malam ini, 30 Agustus 2019 pukul 24.00.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usmah angkat bicara terkait kabar tersebut, ia mengungkapkan bahwa kabar tersebut tidak benar atau hoaks.

“Iya betul, itu hoaks,” kata Fajiryah dikutip Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

Kabar yang Beredar

Dalam kabar kenaikan harga BBM yang beredar di media sosial tersebut tertulis bahwa harga Premium sampai Dexlite akan mengalami kenaikan.

Tertulis bahwa harga premium yang awalnya Rp 7.000 naik hingga Rp. 9.500. Selain itu, harga Pertalite yang awalnya Rp. 7.650 naik mencapai Rp 11.000.

Tak hanya itu, harga Pertamax pun dikabarkan juga naik hingga Rp 14.000, dengan harga awal Rp 9.850. Bahkan, harga Bio Solar yang awalnya Rp 9.600 naik menjadi Rp 8.250. Terakhir, harga Dexlite yang awalnya Rp 11.700 naik hingga Rp 13.000.

Akhir dari pesan tersebut ditutup dengan imbauan kepada masyarakat agar mengisi tangki kendaraan mereka secara full sebelum harga mengalami kenaikan.

Pertamina klarifikasi BBM Naik Hoaks

Pertamina mengaskan melalui pernyataan resminya bahwa kabar terkait kenaikan harga BBM tersebut tidak benar atau hoaks.

Selain itu, dalam pernyataan itu pun tertulis bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM akan diumumkan diumumkan melalui website resmi www.pertamina.com

“Pertamina menegaskan bahwa informasi mengenai Kenaikan Harga BBM pada pukul 24.00 Jumat, 30 Agustus 2019 adalah tidak benar (HOAX),” pernyataan pihak pertamina yang dikutip Kompas.com, Kamis (29/8/2019).

Fajriyah kembali menegaskan bahwa kabar yang beredar di media sosial teraebut tidak benar. Fajriyah mengungkapkan, saat ini Pertamina tidak memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM.

Pemerintah Pangkas Subsidi Energi di RAPBN

Sebelumnya, sempat muncul kecemasan terhadap kenaikan harga BBM karena pemerintah memutuskan memangkas subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 sekitar 3,58 persen sehingga menjadi Rp137,5 triliun. Angka tersebut merupakan penurunan dari alokasi subsidi energi di 2019 yang mencapai Rp142,6 triliun.

Subsidi yang dipatok pemerintah dalam asumsi dasar sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) APBN 2020, untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu, LPG 3 kg dan listrik masing-masing sebesar Rp18,8 triliun, Rp52 triliun, dan Rp62,2 triliun.

Kekhawatiran muncul karena pemangkasan subsidi ini. Kekhawatiran muncul terhadap kenaikan harga pada tahun depan. Padahal, tahun politik sudah lewat dan volume konsumsi energi pun diproyeksikan lebih tinggi ketimbang APBN 2019.

Semisal solar dan minyak tanah, pemerintah menetapkan subsidi sebesar 15,11 juta kilo liter (KL) di tahun 2019 ini. Sementara pada tahun 2020 mendatang jumlahnya naik menjadi 15,58 juta KL.

Baca Juga :

Volume minyak tanah yang disubsidi memang turun dari 0,61 juta KL menjadi 0,56 juta KL. Namun, volume subsidi solar meningkat dari 14,5 juta KL di tahun 2019 ini, menjadi 15,58 juta KL di 2020, dengan subsidi sebesar Rp1.000 per liter atau lebih rendah dari 2019 yang ditetapkan sebesar Rp2000 per liter.

“Kalau biaya lebih tinggi yang ditunjukan dengan ICP (Indonesia Crude Price) dan kurs, maka ada kemungkinan harga minyak solar akan disesuaikan. Menurut saya kemungkinan ini sangat tinggi dilakukan di awal tahun depan,” ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa dikutip Tirto.id, Selasa (20/8/2019) lalu.

Diketahui, penetapan alokasi subsidi untuk solar didasarkan dalam asumsi harga minyak Indonesia (ICP) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, apabila melihat asumsi makro pemerintah, seharusnya pilihan yang diambil dalam subisidi solar bukan Rp1.000 per liter.

Hal itu disebabkan pemerintah sudah mematok asumsi ICP sebesar 65 dolar AS atau meningkat daripada tahun 2019 dengan angka angka 63 dolar AS. Sementara itu, asumsi harga rupiah terhadap dolar ditetapkan di kisaran Rp14.000/dolar AS.

Penjelasan Sri Mulyani Terkait BBM Naik

Dalam hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak merasa khawatir terhadap kenaikan tarif listrik, sampai BBM di tahun depan. Sri Mulyani mengungkapkan hal itu dikarenakan pemerintah masih mempunyai ruang dalam melakukan penyesuaian kebijakan, mau dari sisi harga jual atau pun subsidi.

“Jadi di luar volume akan terjadi perubahan yang mungkin tidak sama persis dengan asumsinya. Di situlah kita lihat policy yang harus ambil diambil dengan mempertimbangkan banyak hal. Di 2020 kami akan lihat dinamikanya dan kami akan lihat policy yang akan kami ambil,” kata dia di Gedung DPR RI, Selasa (20/8/2019) lalu.(ct1)

Penulis: Afsal Muhammad

Sumber: Kompas.com dan Tirto.id

Baca Selengkapnya

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker