Gaya Hidup

Cari Tahu Yuk! Asal Muasal Tahi Lalat yang Ada di Tubuh Kita

CIANJURTODAY.COM – Setiap manusia pasti memiliki tahi lalat. Apakah kamu tahu darimana berasal tahi lalat? Benarkah itu tahinya lalat? Kita bahas semuanya di sini, yuk simak.

Asal Usul Tahi Lalat

Dalam istilah medis, tahi lalat disebut sebagai nevus. Nevus merupakan kata dari bahasa latin yang berarti tanda lahir. Tanda lahir digunakan untuk membedakan satu manusia dengan manusia lainnya dan umumnya ada sejak masih bayi.

Lalu bagaimana bisa nevus yang berarti tanda lahir dan diadopsi sebagai tahi lalat dalam bahasa Indonesia? Menurut dokter spesialis kulit dari RS Mayapada, dr Armansjah Dara Sjahrudin, SpKK, MKes, belum ada penjelasan pastinya.

“Tahi lalat itu kayaknya sebutan di Indonesia saja dan asal-muasalnya saya kurang tahu. Tapi dalam dunia kedokteran namanya nevus,” ungkap dr Dara.

Ada yang menyebut istilah tahi lalat muncul karena bercak cokelat dan kehitaman mirip dengan ‘jejak’ atau kotoran yang ditinggalkan lalat di makanan. Ada juga yang mengatakan tahi lalat mirip dengan lalat yang hinggap di tubuh jika dilihat dari kejauhan.

Tahi lalat merupakan bintik kecil berwarna cokelat, agak kehitaman dan terletak di atas permukaan kulit. Tahi lalat muncul akibat pengelompokan sel-sel melanosit, sel penghasil zat warna kulit. Selain berwarna cokelat atau agak gelap, warna tahi lalat juga ada yang sama persis dengan warna kulit.

Bentuknya ada yang bulat, oval, menonjol, atau datar. Tekstur permukaan tahi lalat juga bervariasi, ada yang halus atau kasar, bahkan beberapa di antaranya ada yang ditumbuhi bulu.

Tahi lalat umumnya banyak dimiliki oleh orang-orang berkulit terang ketimbang mereka yang berkulit gelap. Umumnya tahi lalat muncul selama 30 tahun pertama kehidupan. Namun, ada juga tahi lalat yang muncul sejak lahir.

Hal yang perlu ditegaskan, jumlah dan tampilan tahi lalat bisa saja berubah seiring perubahan hormon. Misalnya, jumlah tahi lalat yang bertambah saat memasuki usia remaja. Di samping itu, warna tahi lalat juga cenderung berubah jadi lebih gelap pada wanita hamil.

Faktor Risiko Tahi Lalat

Sebagian besar tahi lalat bukanlah kondisi medis yang berbahaya. Banyak ahli menduga, seseorang yang memiliki banyak tahi lalat, maka bisa mewarisi kondisi tersebut pada keturunannya.

Penyebab Tahi Lalat

Munculnya tahi lalat dikarenakan adanya pengelompokkan sel-sel penghasil zat warna kulit yang disebut melanosit. Zat yang tak menyebar itu akan membentuk pigmen untuk menutupi permukaan kulit.

Gejala Tahi Lalat

Tahi lalat ada yang berbahaya dan tidak berbahaya. Tahi lalat umumnya tak berbahaya, tapi kondisi ini bisa menurunkan rasa percaya diri sebagian orang. Misalnya, karena bentuknya yang mengganggu penampilan. Tak hanya itu saja, terkadang tahi lalat juga bisa mengganggu keleluasaan. Misalnya, ketika bercukur apabila tahi lalat tumbuh di bagian wajah.

Sementara itu, tahi lalat yang berbahaya merupakan tahi lalat yang menjadi tanda dari kanker kulit. Lebih tepatnya kanker kulit ganas yang disebut melanoma. Ciri-ciri tahi lalat melanoma ini cenderung berbeda bila dibandingkan dengan tahi lalat normal.

Penampilan tahi lalat melanoma bentuknya tidak simetris, tepiannya agak kasar dan tidak rata, dan umumnya terdiri dari dua atau tiga warna. Sedangkan diameternya umumnya lebih besar. Dalam kebanyakan kasus, tahi lalat melanoma terasa gatal, bahkan terkadang bisa mengeluarkan darah.

Seseorang dengan kondisi-kondisi berikut ini memiliki risiko lebih besar untuk terkena melanoma, di antaranya:

Kondisi Terkena Melanoma

  • Memiliki tahi lalat biasa lebih dari 50 buah.
  • Sering terpapar sinar matahari. Radiasi sinar UV bisa merusakan jaringan kulit. Hal ini bisa meningkatkan risiko terserang kanker kulit.
  • Memiliki riwayat keluarga berpenyakit melanoma.
  • Sering mengonsumsi obat-obatan, seperti obat antidepresan atau antibiotik. Obat-obatan jenis ini dapat menurunkan kinerja sistem kekebalan tubuh dan membuat kulit menjadi lebih sensitif terhadap sinar matahari.
  • Memiliki tahi lalat dengan bentuk yang tidak biasa. Harap berhati-hati jika kamu memiliki tahi lalat berukuran lebih besar dibandingkan tahi lalat normal dengan warna cokelat tua di tengahnya dan warna lebih terang pada tepiannya yang tidak rata.
  • Sudah Pernah Mengidap Melanoma.
  • Memiliki kulit sensitif yang mudah terbakar sinar matahari.

Diangnosis Tahi Lalat

Sebagian besar tahi lalat bukanlah masalah medis yang berbahaya, sehingga tak memerlukan diagnosis. Namun, bila merasakan keanehan pada tahi lalat, cobalah temui dokter untuk penanganan lebih lanjut. Nantinya dokter akan membedakan antara tahi lalat normal dengan melanoma lewat pemeriksaan fisik. Jika dokter menyampaikan tahi lalat bersifat kanker, maka akan dilakukan pengambilan sampel untuk diteliti di laboratorium.

Pencegahan Tahi Lalat

Pencegahan tahi lalat ini bisa dilakukan untuk mencegah timbulnya tahi lalat ganas. Misalnya dengan menghindari paparan sinar matahari secara berlebihan, khususnya bagi yang memiliki tahi lalat atau kulit putih.

Waspadai sinar matahari di siang hari, terutama antara jam 11.00-17.00 Wib. Jika diharuskan untuk keluar rumah, bawalah payung untuk melindungi diri dan selalu pakai krim tabir surya.

Jika muncul tahi lalat baru atau perubahan pada tahi lalat lama, coba awasi perubahannya. Misalnya dilihat dari bentuk, warna, tepian yang tidak merata, serta ukurannya. Bila tahi lalat terlihat abnormal, apalagi menimbulkan rasa gatal dan berdarah, segeralah temui dokter.

Nah, jadi tahi lalat bukanlah kotoran yang ditinggalkan lalat di tubuh dan wajah manusia ya teman-teman. Tahi lalat adalah kumpulan melanin yang menyebabkan terjadinya hiperpigmentasi di salah satu bagian tubuh, bisa tangan, punggung, atau wajah, dan biasanya genetik.(ct7/sis)

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button