CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Curug Citambur di Kampung Karawa Getok, Desa Karang Jaya, Kacamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur menyimpan cerita di balik keindahannya. Banyak legenda yang melekat dalam ingatan warga Cianjur seperti terkait air terjun atau Curug Citambur Cianjur, Jawa Barat.

Konon Katanya, Prabu Tanjung Sanghyang Anginan (Raja) yang kini dijadikan nama Desa Pasir Angin sering membersihkan diri, mandi, dan bertapa di curug tersebut setiap Jumat. Dengan perkasanya, Sanghyang datang ke curug tersebut dengan menggunakan seekor kuda. Lengkap dengan pengikutnya yang menabuh alat musik tambur atau dalam Bahasa Sunda yang di sebut dog-dog.

“Begitulah kenapa kecamatan ini dinamai Kecamatan Cikuda karena Saghiyang dulu sering menaiki kuda sebagai alat transportasi pada masanya. Dinamai Curug Citambur karena dahulu para pengikutnya selalu menabuh alat musik tambur atau dog-dog,” kata Pengelola Air Terjun Citambur, Yuche (47), saat dikonfirmasi Rabu (15/7/2020).

Namun asal-usul nama Cueug Citambur ini banyak versinya. Seorang sesepuh setempat, Aki Adin (80), menerangkan, menurut kepercayaan nenek moyangnya dulu kawasan di mana curug tersebut berada merupakan Kerajaan Tanjung Anginan. Sang raja bergelar Prabu Tanjung Sanghyang Anginan.

Kerajaannya berada tepat di depan pintu masuk, yang kini digunakan sebagai Kantor Desa Karang Jaya. Ada ritual unik saat Sanghyang ketika akan menuju pemandian.

“Lantunan alat musik tambur atau dog-dog kerap ditabuh para pengikutnya, sampai-sampai terdengar cukup jauh sehingga warga mendengarnya,” ungkapnya.

Dulu kata Aki Adin, tidak mudah untuk sampai ke curug ini, karena harus melalui sejumlah desa dan menembus hutan.

“Versi lainnya menyebutkan, bahwa air terjun ini dinamai Citambur karena air yang turun dari atas tebing mengeluarkan suara berderum mirip dengan alat musik tambur. Dimainkan dengan cara dipukul seperti kendang,” ungkapnya.(ct6/rez)