CIANJURTODAY.COM – Masyarakat yang tinggal di selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera pasti merasa cuaca lebih dingin beberapa hari terakhir ini. Terlebih suhu udara pada malam dan pagi hari.

Hal ini terjadi karena saat ini bumi sedang berada di titik terjauh dari matahari. Yakni sedang berada di titik Aphelion yang sempat terjadi pada Sabtu lalu (04/07/2020). Namun posisi bumi yang berada di titik terjauh dari matahari juga tidak memengaruhi panas yang diterima bumi.

Karena pada bulan Juli hingga Agustus mendatang nanti, posisi rotasi sumbu yang menghadap ke matahari di belahan utara. Ini menyebabkan suhu di belahan utara bumi lebih panas dibanding di selatan. Membuat angin bertiup dari belahan bumi selatan ke utara, yang disebut sebagai angin muson tenggara.

Hal itu disampaikan oleh peneliti dari Pusat Sains Antartika Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan), Andi Pangerang. Ia mengatakan bahwa peristiwa Aphelion tidak memengaruhi kondisi cuaca di seluruh dunia.

“Jadi dampak signifikan dari Aphelion tidak ada. Nah, cuaca yang belakangan lebih dingin disebabkan oleh angin muson tenggara yang bertiup dari Australia ke Asia.

” kata Andi, seperti dikutip dari Kompas, Senin (06/07/2020).

Pengaruh pola angin ini menyebabkan cuaca dingin di bagian selatan khatulistiwa. Khususnya di daerah Jawa, Bali, NTT, NTB, dan sebagian Sumatera di bagian selatan. Sedangkan cuaca di bagian utara bumi mengalami suhu udara panas.

“Tetapi, untuk Indonesia di bagian utara (khatulistiwa), justru mengalami panas. Karena memang mengikuti bumi belahan utara yang suhunya lebih panas dibandingkan selatan,” jelasnya.

Bahkan biasanya Kota Kembang itu memiliki suhu paling dingin 20 derajat celsius kini menjadi 17 derajat cercius. Selain itu, daerah dengan dataran yang lebih tinggi seperti Lembang, Bandung, suhunya bisa mencapai 15 derajat celsius. Hal ini menunjukan penurunannya cukup signifikan, yakni mencapai 3-5 derajat celsius.(ct4/rez)