Today

Duh! Covid-19 Varian Delta Sudah Masuk Jabar, Karawang Paling Banyak

CIANJURTODAY.COM, Bandung – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa Covid-19 varian Delta telah masuk ke wilayah Jawa Barat. Hal tersebut terungkap, setelah sejumlah kasus ditemukan di Karawang dan Depok.

Pemprov Jabar pun kini terus gencar menjalankan sejumlah antisipasi lonjakan Covid-19 di berbagai perbatasan Jawa Barat dan meminta warga lebih patuh dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Covid-19 varian Delta sudah hadir di Jawa Barat. Ini menandakan kita harus tetap waspada. Ada di Karawang dan Kota Depok,” ujar Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil di Gedung Pakuan Kota Bandung, Senin (21/6/2021).

Kang Emil sapaan akrabnya menegaskan, varian Delta tersebut ditemukan berdasarkan kajian Whole Genome Squence (WGS) yang dilakukan Labkesda dan ITB Bandung.

“Ini menandakan varian Delta penularannya akan lebih cepat dari varian sebelumnya. Mudah-mudahan dengan berita ini, kita tingkatkan kewaspadaan kita,” ungkapnya.

Senada, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Karawang, Fitra Hergyana mengungkapkan, ada 21 warga yang dinyatakan positf Covid-19 varian Delta berdasarkan uji sampel WGS Balitbang Kemenkes.

“Di Jawa Barat sudah ditemukan 339 sampel yang CT-nya di bawah 30. Kami laksanakan WGS di Balitbang Kemenkes dan mendapatkan 25 orang positif Covid-19 varian Delta. 1 di Sukabumi, 1 Bekasi, 1 Depok, 1 Subang, dan 21 orangnya di Karawang,” paparnya, Senin (21/6/2021).

Fitra menuturkan, sebanyak 21 orang tersebut, tersebar di berbagai kecamatan Karawang dan terbanyak di Kecamatan Kutawaluya.

“Kutawaluya 12 orang, Cikampek 2 orang, Telagasari 2 orang, Cilamaya Wetan 1 orang, Klari 1 orang, Kotabaru 1 orang, dan Telukjambe Timur 2 orang. Dari 21 orang itu, 20 PCR negatif, lalu yang 1 orang meninggal dari Kecamatan Kutawaluya karena komorbid,” terangnya.

Terkait penanganannya, Satgas Karawang masih melakukan tracing pada 21 orang tersebut.

“Kami tetap melakukan tracing dari 21 orang tersebut, lalu dari tracing ini kami antigen dulu. Apabila negatif, 5 hari akan dilaksanakan tes PCR, 5 hari isolasi mandiri, dan apabila positif kita laksanakan PCR. Bila CT di bawah 30 kita akan kirim sampelnya ke Balitbang Kemenkes untuk dilaksanakan WGS,” ungkapnya.

Covid-19 varian Delta ini, menurutnya, penularannya lebih cepat dibanding Covid-19 biasa.

“Jadi 60 persen penularannya lebih cepat dan tidak mengenal usia, mau muda atau tua semua bisa terpapar,” imbuhnya

Sementara itu, melihat dari data pikobar.jabarprov.go.id pada Selasa (22/6/2021), total kasus terkonfirmasi Covid-19 di Jabar ada 347.287.

Sebanyak 30.202 masih menjalani perawatan, 312.448 sembuh, dan 4.637 orang meninggal dunia.

Waspadai Gejala Covid-19 Varian Delta dari India

Melansir New York Magazine, varian Delta telah berhasil memicu gelombang pandemi Corona di berbagai negara.

Para ilmuwan dari India menyebutkan, varian ini 50 persen lebih menular daripada Alpha atau varian pertama virus Corona.

Kehadirannya sudah masuk sebagai variant of concern oleh WHO. Ini artinya Delta dapat meningkatkan penularan atau meningkatkan keparahan.

Selain itu, Delta dapat menurunkan efektivitas tindakan kesehatan dan sosial masyarakat, diagnosis, dan terapi. Varian ini harus menjadi perhatian karena mengancam kesehatan global.

Varian Delta kini telah bermutasi memunculkan Delta Plus alias AY.1. Virus ini ditemukan pada enam genome di India pada 7 Juni 2021 Varian ini dinilai cukup mengejutkan. Mutasinya terjadi lebih cepat dari yang diduga para ilmuwan.

Apa Gejala Varian Delta Covid-19?

Menghimpun dari The Guardian, Profesor Epidemiologi Genetik King’s College London Tim Spector mengungkapkan, gejala varian Delta menyerupai flu berat.

Gejala umum lainnya adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek dan demam. Batuk menjadi gejala paling umum kelima, sedangkan hilangnya penciuman tidak masuk 10 besar gejala.

“Covid-19 sekarang berbeda, dia lebih menyerupai flu yang parah. Orang-orang mungkin berpikir hanya mengalami flu musiman dan mereka tetap pergi ke pesta. Kami pikir ini menjadi masalah,” kata Spector, Senin (14/6/2021).

Profesor Kedokteran Darurat dan Kesehatan Internasional, Johns Hopkins Universiy Bhakti Hansoti menemukan gejala tambahan lain.

Di antaranya, sakit perut, hilangnya selera makan, mual hingga muntah, nyeri sendi dan gangguan pendengaran. Akan tetapi masih dibutuhkan lebih banyak penelitian klinis untuk memastikan hal ini.(sis)

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button