Today

Eksklusif, Inilah Pengakuan LGBT Cianjur

CIANJURToday – Isu LGBT di Cianjur semakin memanas. Mulai dari viralnya warga Cianjur yang mengikuti kontes berbau LGBT di Bali hingga himbauan Pemerintah Cianjur melalui khutbah Jumat mengenai bahaya perilaku LGBT.

Banyak tokoh yang berkomentar terkait hal ini, pejabat, ulama, dan tokoh masyarakat. Namun, pernahkah kita memikirkan apa yang dialami oleh orang-orang yang menjadi LGBT? Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka? dan apa yang membuat mereka menjadi LGBT?

Cianjurtoday.com mencoba mengungkap hal ini melalui salah satu pelaku LGBT. Kami berkesempatan mewawancarai Dirga (nama samaran), salah satu Lelaki Suka Lelaki (LSL) di Kabupaten Cianjur, secara eksklusif.

Secara penampilan, Dirga terlihat seperti pria tulen pada umumnya dan menjalani pekerjaan seperti pria normal lainnya. Bagaimana pengalaman dan kehidupan yang dijalaninya? Simak dialog kami di bawah ini:

CT :
Sejak kapan anda mulai menyadari mengalami penyimpangan orientasi sexual?

Dirga :
Sebetulnya mulai ada orientasi menyukai laki-laki sejak kelas tiga sd. Waktu itu suka sama teman sd, dia ketua kelas cowok namanya Kiki, tapi saat itu aku belum paham mengenai hal seperti ini.

CT :
Lalu kapan tepatnya anda mulai paham bahwa anda memiliki orientasi seksual yang menyimpang?

Dirga :
Waktu SMP, tapi saat itu masih dipendam sendiri, sembunyi-sembunyi, belum berani mendekati cowok yang aku suka. Barulah waktu masuk SMA mulai kenal dengan dunia seperti itu.

CT :
Boleh diceritakan bagaimana prosesnya?

Dirga :
Awalnya ada kakak kelas di SMA yang minta no hp. Terus dia chat dan nanya gay apa normal? Karena aku ngerasa dia ngeliat aku kayaknya cuma suka sama cowok aja. Terus, dia kasih kenalan ke aku. Dari sana aku ngerasa bahwa emang orientasi suksual aku ya ke cowok.

CT :
Anda berhubungan dengan pria yang dikenalkan ke Anda?

Dirga :
Ya, karena nyaman dan suka akhirnya jadian.

CT :
Lalu berapa kali anda pernah berhubungan dengan sesama pria?

Dirga :
Beberapa kali, lupa tepatnya berapa.

CT :
Dengan cara yang sama? dikenalkan oleh teman seperti itu?

Dirga :
ada yang dikasih kenalan kayak gitu, tapi ada juga yang memang ketemu di tempat main atau juga di Facebook.

CT :
Anda sudah mengakui secara terang-terangan bahwa anda gay?

Dirga :
Kalau sama keluarga masih sembunyi-sembunyi. tapi ke sebagian teman-teman sudah terang-terangan mengakui kalau aku gay.

CT :
Gimana respon keluarga anda saat ini?

Dirga :
Kalau sekarang mereka biasa aja, karena mereka menganggap kalau aku normal. Tapi dulu pernah ketahuan sama orangtua.

CT :
Dulu bagaimana ceritanya?

Dirga :
waktu itu tahun 2013, aku bawa cowok ke rumah. Sempat ketahuan sama mamah sama nenek lagi berduaan. Dari situ mereka pernah tahu kalau aku gay. Kalau sekarang-sekarang mereka anggapnya aku normal, karena mereka udah gak pernah membahas hal itu lagi.

CT :
Lalu bagaimana dengan respon teman-teman anda?

Dirga :
Beberapa dari mereka nerima apa adanya. Berteman juga gak canggung. yah 80 persen dari mereka menerima aku yang seperti ini, tapi ada juga yang menasehati buat normal kembali.

CT :
Anda pernah ikut dalam komunitas LGBT?

Dirga :
Pernah, dari tahun 2013 sampai 2015. Kalau saat ini sudah tidak aktif lagi.

CT :
Apa saat ini komunitas itu masih aktif?

Dirga :
Saat ini masih aktif, tapi kalau sekarang komunitasnya itu udah menyebar dan bergeraknya sembunyi-sembunyi. Dan biasanya anggota dari komunitas ini punya dua akun sosial media. Satu dipakai untuk straight atau kehidupan normalnya, satu lagi dipakai untuk bertemu dengan teman-teman komunitasnya.

CT :
Apa saja yang dilakukan anggota komunitas LGBT ini?

Dirga :
Kita gak bilang itu sebagai komunitas, tapi biasanya untuk kumpulan sesama gay kita menyebutnya grup. Di grup ini kegiatannya tidak ada yang aneh, hanya sekedar berkumpul dan ngobrol saja. Sesekali kadang kita suka pamer barang-barang yang lagi hits aja. Kalau komunitas itu cakupannya lebih luas lagi. Baru dengan Lesbian, Biseksual, atau juga Transgender.

CT :
Lalu bagaimana mencari orang untuk masuk ke grup atau komunitas ini?

Dirga :
Jadi nyari anggotanya itu yang sudah kelihatan gelagatnya punya orientasi seksual yang menyimpang, biasanya yang kelihatan agak kemayu diajak gabung dan ngobrol-ngobrol. Kalau yang awalnya laki-laki normal kemudian masuk di grup ini biasanya malah jadi biseksual. Jadi suka ke perempuan sama ke laki-laki juga. Jarang yang aealnya straight jadi gay murni, rata-rata jadi biseksual mereka. Saya pernah berpacaran sama yang kayak gitu, udah tiga orang.

CT :
Lalu selain itu apalagi kegiatan yang biasa dilakukan grup atau komunitas ini?

Dirga :
Biasanya suka ada gathering. Seperti dulu saya pernah masuk komunitas di Bandung namanya komunitas Gue Berani. Setiap tiga bulan ada tes VCT, yaitu tes penyakit seperti sipilis, HIV/AIDS dan sebagainya. Disitu kita bisa tahu kita bersih atau enggak. Kalau dulu cuma ada di Bandung dan Jakarta, sekarang di Cianjur juga ada. Biasanya di Puskesmas yang di Joglo sering mengadakan.

CT :
Anda dapat info dari mana kalau di sana suka ada acara seperti itu?

Dirga :
Aku dikasih tahu teman dari FB. Dia pernah jadi panitia di acara tersebut dan di acara itu kayaknya puskesmas merangkul kaum LGBT. Dan tes itu gratis, kita gak bayar. Kalau dikuar dari acara itu biasanya kita harus bayar buat di tes VCT

CT :
Kembali ke kegiatan anda, apakah anda merasakan sentiment dari masyarakat atau dari orang yang anda kenal saat mengakui bahwa anda gay?

Dirga :
Beberapa kali terasa sekali sentiment masyarakat.,dari temen-temen. Kelihatan dari sikap mereka. Tapi, itu hanya sebagian saja. Kebanyakan justru baik-baik saja. Di tempat kerja sendiri gak ada hal negatif yang dialami, kayak bully atau persekusi kayak gitu gak ada. (arm)

Berita terkait

Berikan Komentar Kalian

Back to top button

Harap Ijinkan Iklan di Situs Kami

Sepertinya Anda menggunakan pemblokiran iklan. Kami mengandalkan iklan untuk membantu mendanai situs kami