Today

Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia, TNGGP Gelar Foto Challage Gede Pangrango hingga Penanaman Pohon

CIANJURTODAY.COM, Cipanas – Memeriahkan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) gelar sejumlah acara. Mulai dari Foto Challenge Gede Pangrango hingga penanaman pohon.

Humas TNGGP, Poppy Evlap mengatakan, momentum Hari Keanekaragaman Hayati tahun ini, TNGGP tidak membuat acara apapun. Namun, lebih pada peningkatan pengelolaan keanekaragaman hayati dan melaksanakan kegiatan yang sudah sering digelar setiap tahunnya.

“Tahun ini kami tidak membuat acara, akan tetapi managemen TNGGP memperingatinya dengan cara meningkatkan pengelolaan keanekaragaman hayati dan melaksanakan acara yang sudah ada saja,” ujar Poppy kepada Cianjur Today, Minggu (23/5/2021).

Pihaknya menuturkan, sejumlah rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati sudah sering dilaksanakan. Mulai dari Foto Challenge Gede Pangrango, penanaman pohon, hingga penyelamatan dan pelepasliaran Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus).

“Kami juga turut mendorong Branding Sertifikat Cagar Biosfer Cibodas untuk produk-produk kelompok tani hutan sekitar kawasan TNGGP, program Observasi Terhadap Wilayah (OTW), sampai kepada pembinaan pegawai dan sosialisasi pelayanan prima dan berkualitas,” sebut Poppy.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah daerah maupun provinsi sangat respon, terlebih TNGGP sebagai zona inti Cagar Biosfer Cibodas.

“Pemerintah daerah dan pemerintah provinsi tergabung dalam Forum Cagar Biosfer Cibodas dan salah satunya dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di kawasan TNGGP,” ucap Poppy.

Sementara itu, menurut Ketua Montana atau Volunter TNGGP, Zaini Kawat mengatakan, peringatan Hari Keanekaragaman Hayati tahun ini, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta menumbuhkan kecintaan terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

“Seperti kita ketahui, Indonesia merupakan negara nomor dua di dunia dengan keanekaragaman hayatinya.
Permasalahan yang dihadapi adalah masih rendahnya pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal oleh masyarakat,” ucap Zaini.

Sedangkan, lanjutnya, alam Indonesia sangat potensial untuk pengembangan pangan lokal seperti kekayaan biodiversitas nabati maupun hewani yang cukup besar.

“Selain pemanfaatan sumber pangan lokal, juga untuk meningkatkan pengembangan sosial ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Pihaknya memaparkan, semua kalangan harus sadar bahwa pemanfaatan keanekaragaman hayati ini, bukan hanya harus memanfaatkannya melalui konsumsi sebagai bahan pangan.
“Tapi juga masyarakat dituntut memahami bahwa kekayaan alam yang melimpah lewat keragaman hayati ini merupakan kekayaan intelektual yang harus dijaga,” terang Zaini.

Selain itu, sambungnya, dapat juga dimanfaatkan untuk menambah sumber pendapatan. Salah satu contoh, Indonesia dikenal dengan sumber tanaman obat-obatan yang melimpah.

Menurutnya, hal ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menggali potensi dari masing-masing tumbuhan yang ada.

“Nah, begitu juga dengan keragaman di lingkup hewani, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan sumber pangan hewani dari kekayaan yang ada di Indonesia,” tegas Zaini.

Ia mengungkapkan, hal ini juga rasa perlu, karena pangan import (yang datang dari luar) baik hewani maupun nabati dapat merugikan bagi bertahannya jenis-jenis hewan maupun tumbuhan asli di Indonesia.

Karena, sebutnya, hewan ataupun tumbuhan yang didatangkan dari luar (alien spesies) dapat bersifat invasif spesies, yaitu spesies pendatang di suatu wilayah yang hidup dan berkembang biak di wilayah tersebut dan menjadi ancaman.

“Baik bagi biodiversitas, sosial ekonomi, maupun kesehatan pada tingkat ekosistem, individu, hingga genetik,” tandasnya.(ct6/sis)

Berikan Komentar Kalian

Back to top button