Today

Hasil PPKM Darurat, Dinkes Cianjur Klaim BOR Rumah Sakit Menurun

CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur menyebut, keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit di Cianjur saat ini mengalami penurunan keterisian.

Berdasarkan data, RSUD Sayang Cianjur dengan kapasitas 216 tempat tidur, saat ini keterisian hanya 68 persen dan ketersediaan 70 tempat tidur.

RSUD Cimacan memiliki 100 tempat tidur, dengan keterisian 60 persen dan tersisa 40 tempat tidur.

RSUD Pagelaran keterisian hanya 16 persen, sehingga masih banyak tempat tidur yang kosong atau belum terisi.

Namun demikian, kondisi berbeda terjadi di Rumah Sakit Dr Hafidz (RSDH) Cianjur yang saat ini mencapai 90 persen.

Plt Kepala Dinkes Kabupaten Cianjur, dr Irvan Nur Fauzy mengatakan, BOR Rumah Sakit menurun, seiring diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang dilakukan pemerintah.

“Terlihat pasca-PPKM Darurat terjadi, kasus terkonfirmasi hingga BOR rumah sakit menurun,” ujarnya kepada Cianjur Today, Sabtu (31/7/2021).

Ia menjelaskan, saat ini Kabupaten Cianjur berada di bawah rata-rata BOR Jawa Barat yakni 70 persen, dibandingkan sebelum PPKM darurat bisa mencapai 90 persen.

“Saat ini Cianjur di bawah rata-rata Jawa Barat, namun tetap harus diantisipasi dan jangan abai terhadap protokol kesehatan,” ungkap dia.

Meskipun demikian, Irvan menyebut pasien isolasi mandiri tetap masih ada. Ia mengklaim, pasien isolasi menurun seiring waktu.

“Untuk pasien isolasi mandiri masih ada, namun menurun seiring berjalannya penurunan kasus dan kasus terkonfirmasi di desa-desa terjadi penurunan sekitar 10 persen,” sambungnya.

Sementara itu, Plt Direktur Utama RSUD Cianjur, dr Darmawan menambahkan, BOR Rumah Sakit memang menurun. Namun terdapat juga kenaikan meskipun tidak signifikan dibanding sebelumnya.

“Iya ada penurunan, tapi naik-turun tidak signifikan,” terangnya.

Sementara itu, Plt Dirut RSUD Cimacan, dr Juliana mengungkapkan, penurunan BOR Rumah Sakit terjadi hingga 48-50 persen. Sehingga trennya memang sedang menurun.

“Saat ini trennya menurun. Tapi tetap kami antisipasi jika sampai adanya lonjakan dan bahkan tetap memberlakukan lima shift, agar tenaga kesehatan memiliki waktu istirahat cukup,” tutup dia.(afs/sis)

Berikan Komentar Kalian

Back to top button