CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Tenaga kesehatan (Nakes) di Kabupaten Cianjur menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Pemerintah pun memberikan insentif selama sebulan sekali sebagai apresiasi dan stimulan terhadap kinerja yang telah dibaktikannya.

Juru Bicara Pusat Informasi Covid-19 Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal mengungkapkan, insentif nakes sudah dicairkan sejak 26 Mei 2020 lalu. Ada tiga rumah sakit yaitu RSUD Sayang, RSUD Cimacan, dan RSDH, termasuk nakes di puskesmas.

“Di RSUD Cimacan khusus tidak dari daerah tapi memilih dari pusat, besarannya pun berbeda. Kalau dari pusat itu dokter umum itu dapat Rp10 juta kalau dari daerah itu Rp5 juta,” tuturnya kepada Cianjur Today, Rabu (08/07/2020).

Ia menjelaskan, rumah sakit diberi kebebasan memilih dari mana mereka akan mendapatkan insentif untuk para nakes. Bisa dari pemerintah daerah atau pusat, namun dengan kelebihan dan kekurangan yang ada.

“Dari daerah itu cepet, besok diajukan langsung cair. Manfaatnya bisa diterima langsung. Kalau dari pusat sampai saat ini belum cair, itu bedanya. Jadi semua lebih memilih cepet walau dapat setengahnya dari pusat. Di Permenkes juga diperbolehkan untuk memilih dari pusat atau dari daerah. di Daerah itu tergantung kondisi keuangan yang ada,” jelas dia.

Untuk teknis penyaluran insentif bagi tenaga kesehayan, tidak ada pengendapan dari mana pun. Insentif langsung dikirimkan kepada rekening nakes masing-masing. Nakes yang mendapatkan insentif merupakan dokter, bidan, perawat, dan tenaga medis lainnya baik itu berstatus ASN atau non-ASN.

“Semua langsung by name by adress ke masing-masing nakes yang sudah diproporsikan. Jelas tertuilis nama dan lain-lain semua,” paparnya.

Yusman menyebut, untuk insentif nakes semuanya diajukan oleh Dinkes Cianjur. Hal itu berlaku untuk di rumah sakit dan puskesmas. Selebihnya, lanjut dia, itu urusan masing-masing.

“Dinkes juga yang memverifikasi selebihnya itu urusan masing-masing, karena sudah ditransfer ke by name by adress masing-masing,” katanya.

Namun, untuk insentif di bulan Juni 2020 masih dalam proses pencairan. Hanya akan diberikan kepada nakes yang ada di Puskesmas di Kabupaten Cianjur.

“Insya Allah kalau yang bulan Juni sekarang Dinkes hanya mengurusi yang puskesmas saja. Kalau untuk rumah sakit nanti bisa mengurusi sendiri berkaca pengalaman kemarin, maka untuk rumah sakit sendiri saja dikelolanya,” jelas dia.

Ada Target

Bagi puskesmas, ada target yang harus dicapai agar bisa mendapatkan insentif yang maksimal bagi para nakes.

Semisal, pemeriksaan ODP sampai screening rapid test.

“Ada proporsinya dari ketentuan itu, di mana kalau untuk puskesmas harus mencapai target yang dibutuhkan seperti pemeriksaan ODP, kemudian screening rapid test. Ada rumusnya, ada perkaliannya sehingga didapatkan tidak maksimal,” ujarnya.

“Misal maksimalnya enam orang, tapi karena pemeriksaan ODP-nya kurang dari 100 jadi cuma satu orang yang dapat. Dari satu orang itu kita pilih yang paling besar insentifnya yaitu dokter, jadi jatohnya ke dokter,” jelas dia.

Membahas soal transparansi penyaluran insentif nakes, ada tiga tahapan yang selalu didampingi oleh Inspektorat Daerah (Itda). Maka dari itu, ia mengklaim tidak ada apa-apa dibalik penyaluran insentif nakes di Cianjur.

“Dalam perjalanannya pun waktu pengusulan kita didampingi Itda kemudian dalam proses verifikasinya ditemani inspektorat, dalam pencairannya pun didampingi. Ada tiga pendampingan. Itu sudah sangat transparan menurut kita, tidak ada apa-apa di balik itu,” ucap dia.

Jika ada tuduhan terhadap hal ini, ia menilai hal itu hanya sebuah asumsi selama tuduhan itu bisa dibuktikan. Bahkan, ia menyebut jika ada yang akan melaporkan dan ditindaklanjuti, hal itu bisa mempermudah menghilangkan tuduhan negatif.

“Kalau tuduhan itu asumsi, silakan aja selama itu bisa dibuktikan. Kita sebagai warga negara yang taat hukum malah kita lebih enak kalau misalnya ada laporan kemudian laporan itu ditindaklanjuti kita juga enak untuk menyampaikannya. Supaya betul-betul clear jangan ada kelompok yang berasumsi negatif.” tukasnya.(afs/rez)