Pendidikan

Minat Baca Pelajar Cianjur Dinilai Masih Rendah, Disdikbud Gencarkan Guru Penggerak

CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Budaya minat membaca bagi pelajar di Kabupaten Cianjur dinilai masih rendah. Hal tersebut disinyalir menjadi penyebab rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Cianjur.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Cianjur, Cupi Kanigara mengatakan, dasar optimal dari literasi adalah membaca, karena dengan literasi tidak mungkin bagus tanpa adanya budaya membaca.

“Adapun literasi itu kan lebih dari sekedar membaca, termasuk dengan pemahaman bagaimana mengambil kesimpulan,” tuturnya, Senin (16/11/2020).

Salah satu upaya Disdikbud Cianjur untuk meningkatkan literasi dan minat baca pelajar di tingkat SMP adalah adanya guru penggerak. Upaya ini pun masih dilakukan walau dengan menggunakan sistem Belajar Dari Rumah (BDR).

“Guru penggerak itu fungsinya sebagai alat untuk meningkatkan literasi anak-anak. Melalui sistem BDR, banyak guru mata pelajaran yang memberi tugas kepada muridnya untuk membaca,” kata dia.

Para siswa dibiarkan membaca berbagai buku yang berkaitan dengan mata pelajaran. Setelah itu mereka menulis resume dari hasil bacaannya.

“Guru hanya memfasilitasi saja atau menggerakkan siswa untuk lebih gemar membaca. Itu salah satu upaya kami agar si anak literasinya meningkat,” kata dia.

Namun, dalam menentukan minat baca di Cianjur saat ini, pihaknya memang belum mengkaji lebih jauh. Namun, secara mulut ke mulut, Cupi mengatakan siswa lebih senang mendengarkan dan menonton dari pada membaca.

“Memang perlu upaya lebih keras supaya budaya literasi ini meningkat tidak hanya guru, orang tua juga harus ikut terlibat dan bisa memberikan contoh untuk anak,” ujarnya.

Dalam hal ini, pemerintah melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cianjur mempermudah siswa untuk mendapatkan buku. Namun, ia menilai perpustakaan selalu kosong dan jarang dikunjungi siswa.

“Dinas Perpustakaan sekarang sudah mulai banyak memberikan bantuan buku baik untuk perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, dan tempat ibadah. Namun, karena minat pembacanya kurang kalau kita lihat perpustakaan selalu kosong,” tandasnya.(afs/sis)

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button

Dukung kami dengan Matikan Adblock

Please consider supporting us by disabling your ad blocker