Gaya Hidup

Namanya Terkenal Hingga Ke Eropa, Inilah Sosok Tan Sin Hok Ahli Mikropaleontologi Asal Cianjur

CIANJURTODAY.COM Warga Cianjur harus bangga karena miliki sosok Tan Sin Hok yang namanya harum di berbagai negeri.

Tan Sin Hok merupakan seorang tokoh yang cukup kesohor di tahun 1920-an sebagai peneliti di bidang Mikropaleontologi atau fosil purba berukuran kecil.

Pria ini lahir Desa Cipadang, Cianjur pada 28 Maret 1902. Ia tumbuh menjadi seorang ilmuan, pemikirannya yang cukup mendalam soal keilmuan tersebut, melambungkan namanya hingga ke beberapa negara di Eropa hingga Jepang.

Masa kecilnya ia dedikasikan untuk menuntut ilmu bahkan hingga ke Belanda. Meski tumbuh di lingkungan pedesaan ia mampu menerbitkan disertasi yang amat berpengaruh di bidang Mikropaleontologi.

Tan Sin Hok merupakan anak bungsu pasangan pasangan Tan Kiat Tjay (1870-1910) dan Thio Hian Nio (1875-1948).

Ia juga diketahui memiliki dua orang kakak, yakni Tan Sin Ho (1898-1964) dan Tan Sin Houw (1900-1994). Mereka lahir di keluarga yang memiliki usaha di bidang penggilingan padi.

Ia merupakan sosok yang berilmu. Ia pernah bersekolah tata bahasa Koning Willem III di Batavia (tahun 1907 – 1919). Melanjutkan belajar teknik pertambangan ke Belanda setelah sebelumnya diangkat oleh keluarga adik sang ayah Tan Kiat Hon (1875-1924).

Selama pendidikannya di Belanda, ia meraih gelar doktor pada 5 Oktober 1927, melalui disertasinya berjudul ”Over de samenstelling en het ontstaan van krijt-en mergelgesteenten van de Molukken”.

Meski berasal dari pedesaan di Cianjur,
Namanya harum bersama dengan beberapa karyanya yang berpengaruh di masa tersebut.

Seperti buku yang ia tulis saat bekerja di jawatan pertambangan, milik pemerintah Hindia Belanda berjudul mikropaleontologi radiolaria dari Pulau Rote, NTT.

Karya lainnya berupa 63 entri (laporan, makalah dan disertasi) dengan tema paleontologi, termasuk sebagian tentang geologi ekonomi.

Saat itu tulisannya sangat berpengaruh bagi kekayaan ilmu pengetahuan di bidang geologi dan termasuk fosil, dengan menggagas nama species radiolaria yang dikenal di daratan Eropa dan Jepang bernama Pantanellium squinaboli, Eucyrtis hanni, Hemicryptocapsa capita dan Cyrtocapsa grutterinki.

Keluarga Kecil Tan Sin Hok

Dikutip dari brieven-tan-schepers.nl, Tan Sin Hok pernah menikahi seorang putri warga Belanda bernama Eida Schepers (1908-1983) tanggal 16 April 1929 seusai belajar di Belanda.

Mereka sempat tinggal di beberapa daerah di Kota Bandung, salah satu yang terkenal adalah tempat bernama alamat Van Hoytemaweg nomor 4, atau di Jalan Sumur Bandung.

Dengan Eida, Tan Sin Hok dikaruniai tiga orang anak yang masing-masing bernama Axel Tan Siang Tjoen (1932), Lisa Tan Hsi Chun (1935) dan Gijsbert Tan Bing Tjoen (1942).

Ia sempat tinggal di kamp-kamp pengungsian saat datangnya tentara Jepang ke Indonesia karena menjadi sasaran penahanan di penjara Sukamiskin, hingga dipisahkan dari keluarga dan dipindahkan ke Batavia.

Pada November 1945 ia terbebas dari tahanan dan sempat bertempat tinggal bersama rekannya di Carel Fabritiuslaan (Jalan Haji Wasid, dekat Taman Panatayuda, Bandung sekarang).

Hingga pada 30 November 1945 Tan Sin Hok meninggal duni akibat serangan rakyat pribumi di masa kekacauan pasca perang.

Kisah kematiannya diungkap sang anak,
Lisa Tan, yang saat itu berumur 10 tahun dalam sebuah kertas ia menuliskan ayahnya terluka parah oleh serangan tembakan gerombolan itu.

Sedangkan ibunya terluka di bagian lengan kanan. Setelah dibawa ke Rumah Sakit Borromeus, Tan Sin Hok dinyatakan meninggal pada 1 Desember 1945.

Meski meninggal dengan kisah yang menyedihkan, namun karyanya tak dapat hilang dari bumi. Apa yang dia ciptakan terkenang membuat namanya tak pernah terlupakan.(ega/bbs)

Sumber: Merdeka.com

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button