Pendidikan

PC IMM Cianjur Gelar Darul Arqam Dasar

CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Pengurus Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Cianjur menggelar Darul Arqam Dasar (DAD) di Wisma Sinar Kasih, Sabtu (15/02/2020). Kegiatan ini digelar selama dua hari dengan berbagai kegiatan dan pelatihan bagi para kader.

Ketua panitia DAD, Fajar Alamsyah mengatakan, kegiatan ini digelar untuk menciptakan kader IMM yang diikuti oleh puluhan mahasiswa. Selain itu, ada serangkaian pelatihan untuk para peserta.

“Diikuti 47 peserta. Ada pelatihan,tentang mental, tentang jiwa kepemimpinan termasuk pola pikir tentang iMM itu sendiri dan bentuk organisasi, serta keorganisasian,” tuturnya kepada wartawan, Sabtu (15/02/2020).

Kegiatan ini bertema ‘Memantapkan Ahlak di Era Globalisasi’. Ia menyebut, akan ada tantangan di era globalisasi sehingga harus memantapkan akhlak.

“Dalam menghadapi era globalisasi pasti ada tantangan. Untuk menyikapi tantangan, harus memantapkan ahlak. kalau tujuan tanpa ahlak tidak akan benar,” kata dia.

Ia berharap para kader serta organisasi IMM sendiri bisa lebih baik di masa depan “Saya berharap para peserta Blbisa lebih baik dan bisa melanjutkan keorganisasian dan untuk IMM-nya bisa lebih baik dan para kadernya lebih banyak ke depannya.” pungkasnya.

Menari dan Seni

Merinding ketika Siti Nurseliha (20) mulai maju dengan pakaian kebaya, mengenakan make up menyeramkan di wajahnya dan mulai berlenggak-lenggok.

Dia tertawa dengan nada seperti kuntilanak. Di depan para peserta acara Darul Arqam Dasar yang digelar PC IMM Kabupaten Cianjur di Wisma Sinar Kasih, Pacet, dia memulai monolognya.

Masmira. Itulah nama tokoh yang diperankan dalam monolog mahasiswa semester 4 STIE Muhammadiyah Bandung yang kerap disapa Sese itu.

Ia mengisahkan Masmira, seorang penari. Dia menyertakan pandangan masyarakat soal seorang penari. Sepertinya, itu merupakan hal yang biasa dihadapi para penari —dianggap sebagai perempuan kotor.

“Aku hanya cinta seni,” tuturnya dalam penggalan monolog itu.

Usai mempersembahkan penampilannya, ia keluar dari aula. Saya pun menghampirinya dan meminta izin untuk wawancara.

Anak Kliwon. Itulah judul monolog yang dibawakan Sese. Ia mengungkapkan, kisah dalam monolog itu merupakan kisah nyata.

“Sekitar tahun 1900-an tentang seorang penari yang digauli oleh seorang laki-laki dan dianggap pelacur oleh masyarakat,” tuturnya, Sabtu (15/02/2020).

Ia menyebut, Masmira hanya meluapkan jiwa seninya. “Yaitu menari dan nyinden tapi pandangan orang itu beda,” kata dia.

Sese menjelaskan, Masmira kerap menerima panggilan baik siang maupaun malam. Masmira kerap tampil di tempat hiburan malam pada masanya.

“Tapi, namanya juga pemuda yang tak beretika, mereka menganggap dia bisa digauli oleh siapa saja,” kata Sese.

Dengan ini, Sese berpesan kepada para penari untuk jangan malu dan ragu untuk menunjukan kecintaan terhadap seni.

“Tunjukan saja. Di sini kita punya nilai seni yang lebih, norma dan etika orang seni lebih menerapkan dalam hidupnya,” tuturnya.

Sese mengaku, ia seorang pecinta seni. “Tapi, saya tisak seperti itu. Pecinta seni hanya meluapkan jiwa seninya,” ungkapnya.

Ada kalimat menarik yang diucapkan Sese. “Menari memang terlihat bentuk tubuh, tapi dia tidak kotor. Dia hanya bergaul dengan seni, bukan dengan laki-laki.” pungkasnya.(afs/rez)

Baca Selengkapnya

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button
Close
Close

Dukung kami dengan Matikan Adblock

Please consider supporting us by disabling your ad blocker