Today

Relawan Montana Tolak Rencana Proyek Geothermal di Kawasan TNGGP

CIANJURTODAY.COM, Cipanas – Relawan Montana atau Volunteer Gunung Gede Pangrango, secara tegas menolak rencana pembangunan proyek energi panas bumi atau geothermal di kawasan TNGGP.

Ketua Relawan Montana, Achmad Zaini Takbir mengatakan, hal tersebut seiring dengan sudah dilaksanakannya Focus Group Discussion (FGD) kedua yang dihadiri beberapa stakeholder (pemerintah, akademisi, komunitas, media).

Menurutnya, dari pertemuan tersebut sudah muncul berbagai penolakan dari kalangan masyarakat Cianjur, terutama yang berada di sekitar Gunung Gede Pangrango.

Ia menuturkan, walaupun tahapan pengembangan proyek geothermal baru memasuki tahap sosialisasi dan kajian, namun masyarakat sudah mulai membahas dampaknya.

“Saat ini masyarakat dan berbagai aktivis lainnya tengah antusias membahas dampak positif maupun negatif dari pembangunan proyek geothermal ini,” ujar Zaini kepada Cianjur Today, Selasa (14/9/2021).

Zaini mengungkapkan, tidak dipungkiri dampak positif dari proyek tersebut, salah satunya adalah sebagai upaya pemerintah dalam melakukan transisi energi berbasis fosil ke renewable energy. Hal tersebut tentunya sangat patut mendapat dukungan.

“Akan tetapi, pembangunan proyek geothermal di kawasan TNGGP perlu pertimbangan yang matang dari berbagai sisi. Apakah dapat menjadi sumber enegi yang benar-benar bersih dan aman?,” tanyanya.

Hal tersebut, lanjutnya, karena TNGGP merupakan kawasan konservasi dengan ekosistem yang masih asli, sebagai penyangga kehidupan wilayah di sekitarnya.

“Hal yang harus diingat adalah adanya potensi flora dan fauna yang cukup besar dan TNGGP sudah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO pada 1977. Dengan statusnya sebagai cagar biosfer dunia, kiranya sulit kita akan menerima pengembangan geothermal di dalam kawasan,” tegasnya.

Gunung Gede Pangrango Pemasok Empat PLTA

Selain itu, kata dia, di dalam TNGGP juga terdapat ekosistem penyangga kehidupan wilayah sekitarnya, juga merupakan pusat pendidikan, tempat pariwisata yang banyak dikunjungi dengan aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang sangat besar.

“Potensi hidrologi yang sangat tinggi, karena merupakan hulu dari empat DAS besar (Cimandiri, Ciliwung, Cisadane, Citarum), yang dengan 60 sungainya merupakan bagian dari pemasok air bagi empat PLTA yang ada (Cimandiri, Cirata, Saguling, Jatiluhur),” sebutnya.

Lalu yang perlu dipertimbangkan, lanjut Zaini, dengan dikembangkannya geothermal di kawasan TNGGP, harus ada jaminan ketersediaan air, terutama untuk PLTA Cirata, Saguling, dan Jatiluhur.

Di beberapa tempat yang memiliki potensi air permukaan, sambungnya, telah terjadi banyak pengurangan karena dampak dari terbukanya lahan hijau akibat pengembangan geothermal.

“Maka dari itu, mari kita pertimbangkan lebih matang tentang proyek geothermal di kawasan TNGGP ini, baik dampak positif maupun negatifnya,” tutup dia.(ren/sis)

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button