Gaya Hidup

Simak! Sejumlah Kondisi Kenapa Kamu Tidak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19, Berikut Penjelasannya

CIANJURTODAY.COM – Setelah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) meresmikan pengeluaran izin atas penggunaan darurat vaksin sinovac pada Senin (11/1/2021) Indonesia langsung melakukan vaksinasi Covid-19 pada Rabu, (13/1/2021) kemarin.

Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin Covid-19 di Istana Merdeka dan artis Raffi Ahmad juga menjadi orang pertama yang menerima vaksinasi mewakilkan pemuda milenial.

Bagi masyarakat, sebelum melakukan vaksinasi Covid-19, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, terkait dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan suntik vaksin.

Dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes No. HK. 02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19, terlampir Format Skrining Sebelum Vaksinasi Covid-19.

Di dalam format skrining khusus untuk vaksin Sinovac berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) tersebut, terdapat sedikitnya 16 pertanyaan yang mesti dijawab oleh calon penerima vaksin.

Pertanyaan ini dilakukan guna menentukan apakah vaksinasi dapat diberikan atau tidak kepada calon penerima vaksin.

Kondisi Kenapa Kamu Tidak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19

Berdasarkan pertanyaan dan keterangan yang dicantumkan, berikut ini adalah beberapa kondisi orang yang tak bisa disuntik vaksin Covid-19 Sinovac:

  • Pernah Terkonfirmasi Menderita Covid-19

Kelompok ini dianggap sudah memiliki antibodi protektif, karenanya bukan menjadi prioritas utama pemberian vaksin. Kalaupun seandainya tidak sengatan disuntik vaksin karena tidak pernah periksa sebelumnya.

  • Sedang Hamil atau Menyusui

Belum ada data keamanan dari semua uji klinis fase III vaksin yang sudah dilakukan.

  • Mengalami Gejala ISPA, seperti batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir

Mereka yang mengalami ini, sistem imun tubuhnya dinyatakan sedang aktif. Oleh karena itu menyulitkan pemantauan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Perlu ditunggu gejala ISPA sembuh dan dipastikan bukan Covid-19.

  • Sedang Kontak Erat/Suspek/Probable Covid-19

Harus dipastikan terlebih dahulu bahwa penerima vaksin tidak terpapar Covid-19 dengan pemeriksaan PCR. Jika positif Covid-19, kelompok ini tidak divaksin. Juga tidak ada anggota keluarga serumah yang kontak erat atau suspek atau konfirmasi atau sedang dalam perawatan karena penyakit Covid-19 sebelumnya.

  • Memiliki riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak, dan kemerahan setelah divaksinasi Covid-19 sebelumnya (untuk vaksinasi ke-2).
  • Sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah. Alasannya sama seperti penyakit kelainan darah dan perlu strategi khusus.
  • Menderita Penyakit Jantung (Gagal Jantung atau Penyakit Jantung Koroner)

Kondisi inflamasi kronik yang bisa memunculkan respon imun berbeda terhadap vaksin dan meningkatkan risiko KIPI. Pengaruh obat terhadap penderita penyakit jantung juga bisa memunculkan respon antibodi lemah yang berujung pada kegagalan vaksin. Saat ini, para ahli masih menunggu laporan uji klinis fase 3 di Brasil.

  • Menderita penyakit autoimun sistemik (SLE atau lupus, Sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya.
  • Menderita penyakit ginjal (penyakit ginjal kronis atau sedang menjalani hemodialysis atau dialysis peritoneal atau transplantasi ginjal atau sindroma nefrotik dengan kortikosteroid.
  • Menderita penyakit Reumatik Autoimun atau Rhematoid Arthritis.
  • Menderita penyakit saluran pencernaan kronis.

Penyebab autoimun alasannya sama dengan penyakit autoimun sebelumnya. Gastritis kronis dan GERD bukan kontraindikasi.

  • Menderita penyakit hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.
  • Menderita penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais atau defisiensi imun, dan penerima produk darah atau transfusi.
  • Apabila berdasarkan pengukuran tekanan darah didapati hasil 140/90 atau lebih.
  • Menderita HIV dengan angka CD4 kurang dari 200 atau tidak diketahui.

Sementara itu, apabila berdasarkan pengukuran suhu tubuh calon penerima vaksin sedang demam, yakni memiliki suhu tubuh 37,5 derajat Celcius atau lebih, vaksinasi Covid-19 diarahkan untuk ditunda sampai orang tersebut sembuh dan terbukti bukan menderita Covid-19 dan dilakukan skrining ulang pada saat kunjungan berikutnya.

Vaksinasi juga perlu ditunda bagi penderita penyakit paru, seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), atau TBC sampai kondisi pasien terkontrol baik.

Bagi pasien TBC dalam pengobatan dapat diberikan vaksinasi minimal setelah dua minggu mendapatkan Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

Bagi penderita diabetes tipe 2, juga dapat diberikan vaksinasi apabila kondisinya terkontrol dan HbA1C di bawah 7,5 persen.

Sedangkan untuk penyakit lain yang tidak disebutkan dalam format skrining, dapat berkonsultasi kepada dokter ahli yang merawat.

Perlu diperhatikan, dalam format skrining sebelum Vaksinasi Covid-19 ini telah ditekankan bahwa apabila terdapat perkembangan terbaru terkait pemberian pada komorbid untuk vaksin Sinovac dan atau untuk jenis vaksin lainnya, akan ditentukan kemudian.(ct7/sis)

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Back to top button

Dukung kami dengan Matikan Adblock

Please consider supporting us by disabling your ad blocker