Today

Tingkat Pengangguran Terbuka di Cianjur Melonjak, Kemiskinan Ekstrem Terus Mengintai

CIANJURTODAY.COM, Cianjur – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Cianjur selama 2019-2020 mengalami peningkatan. Salah satunya, akibat terimbas pandemi Covid-19 yang menghantam sektor industri.

Selain itu, di tengah isu kemiskinan ekstrem yang melanda Kabupaten Cianjur, angka pengangguran digadang menjadi salah satu faktor menurunnya kesejahteraan masyarakat.

Kepala Bidang Penempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Cianjur, Ricky Adhi Hikmat menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi angka pengangguran. Namun, yang paling berpengaruh adalan pandemi Covid-19.

“Karena ketika pandemi melanda, banyak perusahaan yang melakukan PHK dan merumahkan karyawannya. Semoga pada 2021, kondisi bisa membaik,” ujarnya kepada Cianjur Today, Rabu (6/10/2021).

Selain dari sektor industri, lanjutnya, sektor lain seperti perdagangan dan barang jasa pun mengalami penurunan, akibat pandemi Covid-19.

“Bahan baku dan lain sebagainya susah didapat. Jadi sangat berpengaruh Covid-19 ini,” ungkapnya.

Pihaknya pun menyiapkan tiga program yang diproyeksikan bisa menurunkan angka pengangguran di Kabupaten Cianjur.

Menurutnya, hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 5 Tahun 2021 yang terbaru.

“Disnaker memiliki sejumlah program, di antaranya penempatan tenaga kerja, pelatihan tenaga kerja, dan bina hubungan industrial,” sebutnya.

Ricky menjelaskan, untuk menurunkan angka pengangguran, tidak hanya dari ketenagakerjaan. Namun, membutuhkan juga sektor lainnya seperti pertanian.

“Seperti misalkan ada petani, pasti ada tenaga kerja. Kalau tidak bertani artinya tidak bekerja. UMKM juga harus bisa mendukung,” paparnya.

Pada 2021, pihaknya menargetkan angka pengangguran bisa turun menjadi 10 persen. Bahkan, ia mengaku, untuk menurunkan angka pengangguran sebanyak satu persen pun butuh tenaga ekstra.

“Target kami bisa turun satu persen, karena untuk menurunkan sebanyak satu persen saja cukup berat, karena jumlahnya juga ratusan ribu. Harapannya malah kembali ke angka sembilan persen,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cianjur Asep Suparman mengatakan, angka pengangguran juga cukup berpengaruh terhadap kemiskinan ekstrem.

Ketika seseorang tidak bekerja maka tidak memenuhi syarat dari Bank Dunia yaitu memiliki penghasilan Rp27 ribu per hari.

“Angka pengangguran juga sama, ketika tidak bekerja maka tidak memiliki penghasilan. Karena dari Bank Dunia itu pernyataannya, ketika seseorang memiliki penghasilan di bawah 1,9 dollar atau Rp27 ribu, maka masuk kategori kemiskinan ekstrem,” singkatnya.

Berikut Data TPT di Kabupaten Cianjur 2017 hingga 2020

Berdasarkan data yang diterima dari Badan Pusat Statistik (BPS), TPT di Cianjur pada 2017 mencapai 10,10 persen. Angka masyarakat tidak bekerja sebanyak 95 ribu dan angkatan kerja sebanyak 941.358 orang.

Kemudian, pada 2018 tingkat pengangguran di Cianjur menurun menjadi 10,1 persen. Angka masyarakat tidak bekerja sebanyak 103.008 dan angkatan kerja sebanyak 1.013.859 orang.

Selanjutnya, pada 2019 angka pengangguran di Cianjur kembali menurun menjadi 9,72 persen. Terdiri atas masyarkat tidak bekerja sebanyak 105.125 dan angkatan kerja sebanyak 1.081.183 orang.

Terakhir, pada 2020 tingkat pengangguran di Cianjur naik drastis menjadi 11,5 persen. Dengan jumlah masyarakat tidak bekerja sebanyak 431.016 dan angkatan kerja sebanyak 1.185.595 orang.

(afs/sis)

Berita terkait

Berikan Komentar Kalian

Back to top button
Enable Notifications OK No thanks