Opini

Ujian Terberat dalam Dakwah

Oleh : Chairul Fauzi Rosidian, M.Pd. (Guru PPKn SMAN 2 Cianjur)

Bismillah…

Ujian Terberat dalam dakwah

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam.

Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. (Wikipedia).

Banyak dicontohkan dalam kehidupan para Nabi dan Rosul mengenai perjalanan dakwah dalam menyebarkan dan mengenalkan Ummat kepada Tuhan-Nya, tiada Tuhan selain Alloh. Namun, amatlah sedikit yang mengikuti dakwah yang disampaikan para Nabi dan Rosul Alloh.

Sebagai salah satu contoh kisahnya adalah peranan Nabi Nuh dalam berdakwah untuk ummatnya. Ratusan tahun Nabi Nuh berdakwah namun kurang dari 90 orang saja yang mengikuti seruan dakwahnya.

Bahkan anak dan Istrinya tak dapat menerima seruan dakwah yg di Wahyukan Alloh kepada Nabi Nuh melalui malaikat Jibril. Mereka hanyut ditelan banjir bandang “Tsunami” terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah.

Contoh lain adalah Istri dari Nabi Alloh yakni Nabi Luth ‘Alayhi salam, yang lebih memilih menyelamatkan harta, benda dari bencana yang Alloh timpakan untuk ummatnya (kaum sodom). Sehingga ia tidak dapat diselamatkan oleh Suaminya (Nabi Luth) karena mengingkari perintah Alloh.

Banyak sejarah lain yang menceritakan hal seperti diatas, sudah selayaknya kita sebagai orang yang beriman dapat mengambil hikmah dari semua peristiwa yang pernah Alloh sampaikan dalam Firman-Nya (Al-Quran).

Al-Quran sebagai “buku pedoman” orang yang beriman kepada Alloh dan para utusan-Nya seharusnya menjadi peringatan bagi kita dan sebagai “penyampai” kabar gembira bagi mukminin dan mukminat yang senantiasa bertaqwa kepada Alloh.

Ujian Terberat dalam Dakwah

Berdasar dari rangkaian peristiwa di atas penulis rangkum beberapa faktor yang menjadi ujian terberat dalam menjalankan dakwah Islamiyah, diantaranya:

Kurangnya Ilmu dalam Memahami Agama

Dalam pengamalan ajaran Islam, ilmu dijadikan tolok ukur untuk dapat meningkatkan derajat seseorang dihadapan Alloh, namun ilmu seperti apa yg dapat mengangkat derajat kita di hadapan Alloh?

Tidak lain adalah ilmu yang bermanfaat, yang sesuai dengan ucap dan perbuatan (amalan). Seperti yang Alloh jelaskan dalam ayat berikut :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah : 11).

Diriwayatkan dari Nabi Saw, sesunggunya ia bersabda: “Jarak antara orang yang berilmu dan seorang budak adalah seratus derajat, jarak antara dua derajatnya seperti tujuh puluh tahun perjalanan kuda”. Dan dari Nabi Saw, “Keutamaan orang berilmu atas seorang budak adalah laksana bulan purnama ketika malam atas sekalian bintang-gemintang”. Dan dari Nabi Saw: “Pada hari kiamat akada ada tiga golongan yang memberi syafaat: para nabi, para ulama, dan para syuhada”, maka tempat yang paling mulia adalah di pertengahan antara kenabian dan kesaksian Rasulullah.” (Tafsir al-Qurthubi, 1964: 17/ 300).

Apabila ilmu tersebut hanya dapat disampaikan namun tidak kita amalkan, khawatir kita termasuk orang yang Sombong seperti halnya Iblis dengan ilmu yang dia miliki tidak menjadikannya taat kepada Alloh melainkan tersesat di jalan kebenaran (Na’udzubillah).

Masih Mempunyai Sifat Sombong dan Iri

Seperti halnya kisah Iblis yang dahulu sebelum diciptakannya Nabi Adam, Iblis sangat rajin beribadah kepada Alloh selama ribuan tahun.

Namun saat Alloh ciptakan Nabi Adam sebagai manusia pertama yang diperintahkan untuk memimpin (menjadi khalifah) di muka bumi, Iblis merasa “tersaingi” dan merasa iri.

Ini karena menurutnya Alloh tidaklah adil karena dia merasa yang lebih dulu mengenal dan taat kepada Alloh, namun Alloh lebih memilih Adam sebagai khalifah di bumi. Dengan sifat sombong dan iri hatinya Iblis tersebut itulah yang menyebabkan dia tersesat dari jalan yang Alloh ridhoi. (Na’udzubillah)

Kesombongan sifat Iblis telah Alloh jelaskan dalam (QS. Al-Baqarah :34)
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.

Tidak Mau Menerima Nasihat

Seperti halnya poin no dua di atas bahwa seseorang yang memiliki sifat sombong dan iri hati akan sulit menerima nasihat dari siapapun yang dapat menyebabkan tertutup atau bahkan hilang hidayah dari Alloh. Seperti yang dijelaskan dalam (QS. Al-Baqoroh : 10) :

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya…”

Lebih lanjut di ayat yang lain Alloh menjelaskan :
“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”. (QS. Al-Baqoroh : 74)

Bahkan Alloh mengkategorikan orang yang beriman sesuai dengan Firman-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal : 2).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.”

(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2598).

Fitnah dan Ancaman seperti Teror, Ancaman Verbal / Fisik, Bahkan Ancaman Pembunuhan

Tidak sedikit para Ulama kita yang telah mengorbankan jiwa dan raganya semata-mata untuk membela Agama Alloh. Banyak para pendahulu lita salafus-sholih yang menjadi korban dari fitnah dan ancaman kaum fasik, dan munafiq.

Tak sedikit diantara mereka yang bahkan dipenjarakan karena dituduh teroris, menyebarkan berita bohong, bahkan ada pula yg dituduh meresahkan masyarakat karena berita kebenaran yang mereka sampaikan di depan khalayak orang.

Salafus-sholih dan para ulama yang pernah mendaptakn ancaman bahkan wafat dalam keadaan terbunuh diantaranya :

  • Bilal bin Rabbah dengan ketaqwaan dan keimanan yang besar ia disiksa oleh Ummaya di hadapan banyak orang dibaqah terik matahari dan ditimpa batu diatas badannya dengan tidak menggunakan pakaian karena menolak ajakan Ummaha untuk menyembah berhala dan meninggalkan Islam agama yang telah Bilal pilih sebagai pedoman hidup.
  • Ustman bin Affan yang wafat karena serangan dari kaum pemberontak (kaum Khawarij) yang memberontak dan pada akhirnya membunuh Usman bin Affan.
  • Ustadz Haikal Hasan, saat berkunjung ke Palestina dia sempat diancam oleh tentara Zionis Yahudi (Israel) menggunakan senajata api
  • Alm. Syeikh Ali Jaber yang ditikam oleh seorang pemuda tak dikenal saat mengisi ceramah di suatu tempat, dan masih banyak lainnya yang mengalami nasib serupa yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semua itu terjadi tidak terlepas dari kepentingan politik dan tipu daya syaithon yang telah membutakan mata, telinga, hati dan pikiran manusia. Hanya untuk memenuhi hasratnya untuk mendapatkan kekuasaan sehingga suara kebenaran yang berasal dari Wahyu Alloh (Quran) dan Contoh akhlak Muhammad sebagai Rosululloh (As-Sunnah) tidak didengar dan tidak dijalankan bahkan dianggap penghambat cita-cita bagi kaum fasik dan munafiq.

Kaum fasik dan munafiq hanya memakai dalil Quran dan As-Sunnah untuk kepentingan mereka sendiri sepertihalnya “menjual” ayat-ayat yang sesuai dengan mereka.

Apabila ayat-ayat tersebut tidak sesuai dengan kepentingan mereka, mereka akan mengelak dan mengabaikannya. Seperti yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat berikut :

“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 41)

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” (QS. Al-Maidah: 44)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan :


“Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa”. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, [ثَمَناً قَلِيلاً] “harga yang rendah”. Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).

Sebagai contoh. QS. Al-Maidah : 3. Sudah jelas dikatakan bahwa darah, daging babi dan binatang yang disembelih dengan menggunakan nama selain Alloh itu diharamkan bagi Ummat Islam.

Namun karena kepentingan tertentu ada yang menghalalkannya dengan alasan teknologi sekarang sudah bisa menghancurkan cacing pita yang ada di dalam kandungan daging tersebut. Contoh lain seperti kata-kata : “Semua agama adalah sama”.

Jika mengaku sebagai muslim yang taat tentulah tidak akan sependapat dengan pemikiran yang diluar batas (liberal) seperti itu karena, jika semua agama sama, buat apa kita syahadat, sholat, puasa, zakat dan menjalankan ibadah haji?

Cukup dengan melakukan kebaikan saja tak usah seperti itu, tentu hal ini bertentangan dengan QS. Al-Bayinah : 6

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”

Dakwah bukanlah kewajiban para Ulama semata, melainkan kewajiban seluruh ummat muslim dalam menyebarkan perintah dan larangan Alloh. Tentunya disesuaikan dengan ilmu pengetahian dan kemampuan yang kita miliki.

Didasari kepada Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan dakwah bukan pada pemikiran pribadi yang tidak mendasar, yang dapat menimbulkan kekacauan sebagai wujud dari hasrat ambisiusnya karena telah dipengatuhi oleh tipu daya syaithon (Na’udzubillah).

Semoga kita dapat menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Alloh. Semata-mata apa yang kita lakukan hanya untuk beribadah kepada Alloh Tuhan Semesta Alam.

Wallohu ‘Alam Bissawab.

Berita Lainnya

Berikan Komentar Kalian

Check Also
Close
Back to top button