Nasional

Waduh! Arti Kata Perempuan di KBBI Mengandung Makna Negatif, Begini Isinya

CIANJURTODAY.COM, Jakarta – Isu perempuan kembali mencuat usai berita terkait definisi perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diprotes karena dinilai mengandung makna yang negatif.

Salah satu protes itu disampaikan oleh vokalis Barasuara, Asteriska, melalui akun Instagramnya, @asteriska_. Dia melayangkan protes sambil memakai kaus yang berisi definisi kata perempuan di KBBI. Aster menilai definisi perempuan di KBBI negatif.

“Coba deh dicek isi kamus, penjelasan kata perempuan di situ negatif sekali dan tidak objektif,” ujarnya dikutip Cianjur Today, pada Rabu (3/2/2021).

“Kami mohon, tolong ganti penjelasan tentang Perempuan di dalam kamus bahasa Indonesia. @badanbahasakemendikbud @kemdikbud.ri @kemenpppa,” lanjutnya.

Setelah ditelusuri, definisi perempuan yang dipermasalahkan oleh Aster ialah sebagai berikut:

perempuan/pe·rem·pu·an/ n 1 orang (manusia) yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan); bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
— geladak pelacur;
— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;
— jalan pelacur;
— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;
— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);
— lacur pelacur; wanita tuna susila;
— lecah pelacur;
— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;
— simpanan istri gelap;

Terkait hal ini, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Abdul Khak menjelaskan, soal proses penyusunan kamus. Dia mengatakan KBBI disusun berdasarkan penggunaan oleh penutur Bahasa Indonesia.

“KBBI itu adalah kamus yang dituliskan berdasarkan penggunaan oleh penutur bahasa Indonesia yang dulu bahasa Melayu itu, dari dulu sampai sekarang. Jadi kata-kata yang ada di situ, itu sesungguhnya merupakan histori yang mana duluan hadir,” kata Abdul Khak, Selasa (2/2/2021).

Menurutnya, pencatatan definisi perempuan tersebut mengikuti dinamika pemakaian bahasa di masyarakat.

“Karena itu, bentuk-bentuk gabungan ya. Bahwa di situ tidak ada gabungan yang berkonotasi positif, ya mungkin memang masyarakat kita belum membentuk. Artinya, yang di luar di situ, perempuan positif artinya,” ujarnya.

“Kalau ada bentukan lain yang bersifat positif dan dipakai masyarakat, tersebar di media dan dipakai di mana-mana, tentu akan dicatat KBBI menjadi salah satu bentukan di situ,” lanjutnya.

Dia mencontohkan pemakaian kata gabungan ‘perempuan jalang’. Kata gabungan tersebut, lanjutnya, tercatat karena dulu memang digunakan oleh masyarakat. Selain itu, dia membandingkannya dengan kata ‘canggih’, yang maknanya kini sudah tidak dipakai.

“Sebagai perbandingan, di KBBI kata canggih itu ada makna yang sudah tidak digunakan. Yang maknanya bawel, cerewet. Itu sudah tidak digunakan karena zaman berubah. Canggih itu teknologi,” jelasnya.

Abdul mengaku sudah mendapatkan protes itu beberapa minggu lalu. Dia mempersilakan siapa pun jika ada yang ingin berkorespondensi dengan Badan Bahasa.

“Saya mendapatkan itu beberapa minggu sebelumnya. Kalau menyurati ke kami, ya akan kami jawab,” tandasnya.(sis)

Berikan Komentar Kalian

Back to top button